Rabu, 26 Juni 2013

Path Updater PES 2013 Terbaru

Path Updater PES 2013 Terbaru

Patch untuk update PES 2013 kembali rilis, saat ini masuk ke versi PESEdit.com 2013 Patch 4.0. Pasti pecinta PES 2013 sangat menunggu update ini termasuk saya. Dalam update ini banyak hal yang baru diantaranya wajah, rambut, sepatu, seragam dan tentunya transfer pemain terbaru seperti pembelian Neymar dari Santos ke Barca, dan Götze ke Muenchen


Screenshot:
New features:
  • Transfers: 600+ summer transfers for the most important leagues included 
  • Updated relegated / promoted teams for Premier League, Ligue 1, Serie A, La Liga, Bundesliga 
  • Confed Cup 2013 squads + lineups 
  • Created 50+ new players 
  • New boots: Nike CTR Maestri III blue, Tiempo Legend IV white, Mercurial Vapor IX yellow colorways New kits: Arsenal, Athletic Club, Atlético, Atlético Paranaense, AZ, Bahia, Barcelona, Barnsley, Bolton, Bordeaux, Bremen, Brugge, Canada, Cardiff, Celta Vigo, Chelsea, Club América, Coritiba, Crystal Palace, Derby County, Dortmund, Feyenoord, Freiburg, Greece, Gremio, Hull City, Juventus, Leverkusen, Liverpool, Luzern, Manchester United, Middlesbrough, Monaco, Newcastle, Osasuna, PSV, Rayo Vallecano, Real Madrid, Santos, Sevilla, St Gallen, Sunderland, Thun, Watford, West Ham 
  • New team: Karlsruher SC + Arminia Bielefeld moved to 2. Bundesliga 
  • Updated money in FL for some teams 

Selasa, 25 Juni 2013

sardem: PKS Terancam Dibubarkan

sardem: PKS Terancam Dibubarkan: Dalam sidang perdana terdakwa korupsi kuota impor daging sapi Luthfi Hasan Ishaaq terungkap bahwa PKS menargetkan Rp 2 triliun untuk pem...

Download Software Browser & Plugin Gratis

Silahkan yang mau download Software Gratis tinggal Klik Link Biru di bawah.


Jangan lupa diShare ya kawan !

Do'a Qunut ?

Tentang Qunut : Apa Hukumnya ?


Dalam sehari semalam, seorang mukalaf wajib mengerjakan salat sebanyak lima kali. Dari kelima salat itu, salat subuh mempunyai ciri khas yang dapat membedakannya dari salat-salat yang lain. Selain karena hanya dua rakaat, salat subuh mempunyai qunût yang dapat membuatnya lebih istimewa dari yang lain.

Secara etimologi, qunût berakar dari kata qanata yang berarti merendahkan diri pada Allah . Bisa juga berarti berdoa, baik berdoa dengan kebaikan atau keburukan. Sedangkan secara terminologi, qunût berarti sebuah zikir tertentu yang dibaca pada waktu tertentu pula.

Ulama berbeda pendapat tentang bentuk redaksi qunût. Ada yang mengatakan bahwa redaksi qunût itu hanya tertentu dengan bacaan yang ma’tsûr (diriwayatkan) dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, dan ada yang mengatakan sebaliknya. Sedangkan manyoritas ulama fikih berpendapat bahwa qunût tidak tertentu dengan yang ma’tsûr dari Nabi Sallallâhu ‘alaihi wasallam, qunût juga bisa dengan membaca redaksi lain yang mengandung doa seperti qunût-nya Sayidina Umar Radhiyallâhu ‘anhu.

Redaksi qunût yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih dapat diklasifikasikan menjadi dua macam.

Pertama, qunût yang ma’tsûr dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, yaitu Redaksi ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dari Sayyidina al-Hasan bin Ali.

Kedua, qunût yang pernah dibaca oleh Sayidina Umar Radhiyallâhu ‘anhu, yaitu:


اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِيْ

فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ اِنَّكَ تَقْضِيْ وَلَايُقْضَى عَلَيْكَ وَاِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَا لَيْتَ

Di dalam qunût yang ma’tsûr dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, disunnahkan melanjutkannya dengan membaca tsanâ’ (pujian) terhadap Allah Subhânahu wa ta‘âlâ dan dilanjutkan dengan membaca salawat kepada Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam seperti yang sudah lumrah dilakukan di kalangan masyarakat.

Di dalam pelaksanaannya, qunût tidak boleh dibaca terlalu panjang seperti halnya pelaksanaan tahiyat pertama dan akan menimbulkan hukum makruh bila dilaksanakan dengan terlalu panjang. Tapi, ketika seseorang membaca qunût, dan dalam qunût tersebut dia menggabungkan antara qunût yang ma’tsûr dari Nabi dengan qunût-nya sayyidina Umar Radhiyallâhu ‘anhu, maka qunût tersebut tidak dihukumi makruh. Qunût tersebut tetap dihukumi sunah bagi orang yang salat sendirian, atau bagi seorang imam yang makmumnya sedikit, sedangkan mereka rela dengan bacaan imamnya yang dipanjangkan.

Sedangkan tata cara membaca qunût itu sendiri, apabila yang membaca adalah orang yang salat sendirian, maka bacaan qunût harus dibaca secara pelan. Dan bagi seorang imam, bacaan qunût boleh dibaca pelan dan boleh dibaca keras. Sedangkan bagi makmum, apabila imamnya membaca dengan keras, maka dia membaca “amin”, dan apabila imamnya membaca dengan pelan, maka dia boleh memilih antara membaca qunût sendiri atau diam. Tapi menurut pendapat yang lebih sahih (qaul ashah), apabila bacaan imam berupa do’a, maka makmum harus memaca “amin”, dan bila berupa tsanâ (pujian), maka makmum boleh memilih antara membaca tsanâ seperti halnya imam atau diam.

Dari sisi lain, qunût juga bisa dibagi menjadi dua, yaitu : qunût râtib dan qunût nâzilah. Qunût râtib adalah qunût yang dilaksanakan pada waktu salat subuh dan di rakaat terakhir salat witir diseparuh kedua bulan Ramadhan.

Qunût râtib ini termasuk diantara sunnah ab’adh-nya salat, bila lupa tidak dikerjakan maka disunnahkan sujud sahwi. Meninggalkan sebagian dari qunût râtib ini sama halnya dengan meninggalkan kesemuanya qunut. Jadi, orang yang tidak membaca qunût ini dengan sempurna, atau mengganti sebagian kalimat dengan kalimat yang lain, seperti mengganti huruf “ fî “ dengan “ma’a” dalam lafadz “fî man hadaita”, maka orang tersebut sama halnya dengan tidak mengerjakannya sama sekali dan disunnahkan baginya untuk mengganti qunût tersebut dengan sujud sahwi. Sama dengan permasalahan diatas yaitu, bila ada orang yang membaca sebagian qunût, lalu melanjutkannya dengan qunût yang lain yang tidak sama dengan qunût yang pertama, seperti membaca sebagian qunut yang ma’sur dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam lalu melanjutkannya dengan sebagian qunutnya Sayyidina Umar Radhiyallâhu ‘anhu, maka orang tersebut juga disunnahkan menggantinya dengan sujud sahwi, karna orang tersebut tidak membaca satu qûnut-pun dengan sempurna.

Sedangkan yang dinamakan qunût nâzilah adalah qunût yang dilaksanakan karna ada bencana yang menyusahkan umat islam, seperti terjadi badai, kebakaran, murtadnya mayoritas umat islam atau negara islam sedang diserang musuh. Maka, apabila ada kejadian seperti itu, disunnahkan bagi umat islam yang lain untuk qunût setelah ruku’ di rakaat yang terakhir dalam semua salat maktûbah (salat fardlu) untuk mendo’akan orang muslim yang lain yang tertimpa musibah.

Qunût nâzilah ini pernah dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam selama satu bulan untuk mendo’akan para sahabat yang terbunuh dalam peristiwa sumur mu’nah. Jadi, hukum mengerjakan qunût ini adalah sunnah ketika ada musibah yang menimpa umat islam dengan dasar mengikuti langkah perbuatan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Dalam kesunnahan qunût nâzilah ini, apabila lupa tidak dikerjakan atau satu kalimat diganti dengan kalimat yang lain, maka tidak disunnahkan untuk menggantinya dengan sujud sahwi, karna kesunnahan qunût nâzilah ini adalah dzâtiyah dari qunût itu sendiri, tanpa ada sangkut pautnya dengan salat yang dikerjakan.

Untuk lafal-lafal yang digunakan dalam qunût nâzilah ini, sama dengan lafadz-lafadz yang digunakan didalam qunût râtib. Tapi, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa lafadz-lafadz qunût nâzilah lebih baik disesuaikan dengan peristiwa yang menimpa kaum muslimin dan ini lebib baik dari pada membaca qunut yang biasa dibaca dalam qunût râtib. Jadi, apabila kejadian yang menimpa kaum muslimin berupa bencana gempa bumi, maka, sebaiknya para korban dido’akan dengan doa-doa yang dapat meringankan penderitaan mereka.(el milkaniy)

Referensi :
* Hâsyiah al-Baijuri li Syaikh Ibrahim al-Baijuri, vol. 1 hal.312-314
*Raudlah at-Thâlibîn, vol.1 hal.253-254
* Nihâyah al-Muhtâj, vol.2 hal. 67
* Mughni al-Muhtâj, vol.1 hal. 168

http://alfithrohkita.blogspot.com/

Bahtsul Masail Menjawab : Kontroversi Putusan MK Tentang Anak di Luar Nikah

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Tentang Status Anak yang Lahir di Luar Nikah


Deskripsi Masalah
Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Pasal 43 ayat (1) UU 1/1974 yang menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya, sehingga ayat tersebut harus dibaca, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”.
Pro kontra menyikapi putusan MK tentang status anak di luar nikah terus mengalir.MUI berkomentar keras dan mengecam keputusan tersebut karena dinilai telah mencabik-cabik ajaran Islam dan membuka pintu bagi perzinaan.Sampai-sampai Rais Am PBNU KH. Sahal Mahfudh menginstruksikan kepada panitia Munas Alim Ulama NU 2012 untuk mengkaji kembali batas ketaatan warga kepada pemerintah terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai status hukum anak luar nikah yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam. (NU online 3/4/2012).
Di lain pihak, Ketua MK, Mahfud MD menilai MUI tidak faham konsep hukum yang mengatakan, bahwa putusan tersebut justru menghalalkan perzinahan. “MUI itu tidak paham konsep hukum. MUI menilai MK menghalalkan perzinahan, justru vonis MK itu mengancam orang agar tidak tidak berbuat zina agar mau bertanggung jawab pada anaknya,” katanya saat meresmikan miniatur Wilwatika di Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Rabu (28/03/2012). Mahfud MD juga menyatakan, MUI sendiri menyamakan hubungan keperdataan dengan hubungan nasab. “Keperdataan, belum tentu bisa diartikan nasab.MK sebenarnya menilai orang yang lahir, pasti punya hubungan nasab dengan bapaknya,” ujarnya. Mahfud menjelaskan, putusan MK hanya mengakui anak hasil perkawinan sah secara agama. Di luar itu (hasil perzinahan, red), secara hukum anak tidak ada nasab dari bapaknya dan hanya perdata saja.Pria asal Madura ini menggambarkan, semisal ada anak terlahir dari hasil perzinahan dan bapaknya tidak bertanggung jawab, maka anak ini bisa menuntut bapaknya secara perdata. (detiknews 28/3/2012).
Ia menyatakan, pihaknya tidak secara spesifik menyebut sahnya perkawinan seseorang. Tapi mengatakan bahwa orang yang kawin sah secara agama atau kawin siri harus dinyatakan mempunyai hubungan perdata dan hak-hak keperdataan yang bisa dituntut seorang anak dari ayahnya yang tidak mau mengakui. “Termasuk kawin kontrak atau kawin mut’ah yang dilakukan secara sah tidak serta merta selesai. Pokoknya kalau ada anak, maka sang ayah harus bertanggung jawab,” terang Mahfudz MD saat ditanya soal hak perdata perkawinan, di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), JawaTengah. “Nantinya, kata Mahfud, nama ayah harus dicantumkan pada anak. Tetapi setiap anak yang dihasilkan dari nikah siri, atau kawin kontrak harus membuktikan dulu di pengadilan. “Artinya membuktikan dirinya pernah kawin kontrak atau siri, dan ini anaknya.Kalau ayahnya mengelak, bisa dibuktikan sampai tes DNA,” jelasnya. Sedang yang dimaksud hak keperdataan, menurut Mahfud MD, termasuk waris, nafkah, administrasi kalau anak sekolah yang harus disebut ayahnya, maka harus disebutkan. (Okezone 5/3/2012)
Pernyataan ini kontras dengan komentarnya sendiri pada media Februari lalu. Saat itu, ia menilai putusan ini sangat penting dan revolusioner. Sejak MK mengetok palu, semua anak yang lahir di luar perkawinan resmi, mempunyai hubungan darah dan perdata dengan ayah mereka. Di luar pernikahan resmi yang dimaksud Mahfud ini termasuk kawin siri, perselingkuhan, dan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.
Wakil Menteri Agama, Nazarudin Umar, mengaku siap menjalankan putusan MK. Menurut Nazarudin, Implementasi putusan MK tersebut adalah anak yang tidak bisa mempunyai akta kelahiran (lengkap dengan nama ayah dan ibu) karena orang tuanya tidak memiliki akta nikah, maka sekarang hal itu bisa berubah.
Pakar DNA Universitas Airlangga Surabaya, Prof Sukri Irfan mengatakan, hasil uji DNA memiliki nilai ketetapan luar biasa untuk membuktikan siapa ayah biologis seorang anak “prosentase kalau itu benar adalah 99,9999 %,” ujar Sukri, Jumat (17/2). DNA umumnya terletak di inti sel. Untuk melihat DNA di dalam sel ini harus melalui cara khusus dan mesin khusus. “Di Surabaya, peralatan ini baru ada di RSU Dr Soetomo,” ujarnya. Prof Sukri menjelaskan, jalan yang paling umum untuk melihat DNA adalah melalui darah. Namun seandainya, orang yang akan diambil DNA-nya ini telah meninggal maka yang dipakai adalah usapan lendir dari pipi.
Pertanyaan (a)
Bagaimana fiqh menyikapi keputusan MK?
Jawaban (b)
Keputusan MK tidak sesuai dengan rumusan fiqh.
Referensi
- Bujairomi‘Ala al-Khotib, juz 4, hlm. 167
- Al-Wasith, Juz 5, hlm. 103
- Mughni al-Muhtaj, juz 4, hlm. 103

1.   تحفة الحبيب على شرح الخطيب | جـ 4 صـ 167
تنبيه علم من كلام المصنف أن البنت المخلوقة من ماء زناه سواء تحقق أنها من مائه أم لا تحل له لأنها أجنبية إذ لا حرمة لماء الزنا بدليل انتفاء سائر أحكام النسب من إرث وغيره عنها فلا تبعض الأحكام كما يقول المخالف فإن منع الإرث إجماع كما قاله الرافعي ولكن يكره نكاحها خروجا من خلاف من حرمها ولو أرضعت المرأة بلبن الزاني صغيرة فكبنته قاله المتولي
قوله (علم من كلام المصنف) أي من قوله بالنسب فإن بنت الزنا لا تحرم عليه قوله (من ماء زناه) أي ولو احتمالا بأن تعاقب عليها رجلان واحتمل كون البنت من كل منهما فيحل لكل منهما نكاحها فيكون قوله سواء أتحقق الخ غيرمنا فله قوله (سواء أتحقق أنها من مائه) أي بأن أخبره بذلك معصوم كسيدنا عيسى عليه السلام قوله (تحل له  أي حيث ولدتها بخلاف ما لو ساحقت المرأة المزنى بها زوجة الزاني أو أخته أو أمه أو بنته وخرج ماء الزنا من المرأة المزنى بها فيفرج الزوجة ومن ذكر معها وعلقت به وولدت بنتا فلا تحل له بل تحرم عليه من تلك الجهة لا من جهة أنه ماء زنا لأن ماء الزنا لا حرمة له على الزاني والعبرة بالحرمة وعدمها حال خروجه على المعتمد عند م ر حتى لو أخرجه بيده أو بيد أجنبية واستدخلته زوجته ومن ذكر معها فهو لا حرمة له لو أتت منه ببنت فكانت تحلّ له لو لم تكن من تلك الجهة وأما لو أخرجه بيد زوجته أو أمته فهو حينئذ محترم فإذا استدخلته أجنبية فعلقت به وأتت ببنت فهي حينئذ محترمة وأما حج فيشترط أن يكون محترما حالة الخروج وحالة الاستدخال أيضاً اهـ قوله (وغيره)  أي كجواز الخلوة وجواز النظر لما عدا ما بين السرة والركبة اهـ شيخنا قال ع ش على م ر فلو وطىء كافرة بالزنا فهل يلحق الولد المسلم في الإسلام أو يلحق الكافرة؟ ذهب ابن حزم وغيره إلى الأوّل واعتمد م ر تبعا لوالده الثاني كما صرّح به في باب اللقيط اهـ قوله (كما يقول المخالف)  وهو أبو حنيفة فإنه يقول إن البنت المخلوقة من ماء زناه لا تحل له ومع ذلك قال لا ترثه فكونها لا تحل له فيه إثباتا لمحرمية لها وكونها لا ترثه فيه إلحاقها بالأجانب ففيه تبعيض الأحكام شيخنا قوله (ولكن يكره الخ) لا يخفى أن كراهة نكاح بنت الزنا لا يتقيد بصاحب الماء بل كل شخص يكره له نكاحها فما وجه هذا التقييد هنا اهـ خ ض قوله (فكبنته)  أي التي من الزنا فهي كالأجنبيات أو الضمير للزنا أي في حل له نكاحها وكان الأولى أن يقول فكالبنت المخلوقة من ماء زناه المرتضعة بلبن زناه وعبارة س م وكالمخلوقة من ماء زناه المرتضعة بلبن زناه اهـ وعبارة شرح الروض فكبنتها فالإضافة في قوله فكبنته لأدنى ملابسة أي تعلق لأنها مما تجناه
1.   الوسيط | جـ 5  صـ 103
فرع   إذا ولدت من الزنا لم يحل لها نكاح ولدها والمخلوقة من ماء الزنا لا يحرم نكاحها على الزاني لأنها تنفصل عن الأم وهي إنسان وبعض منها وتنفصل عن الفحل وهو نطفة فعلة تحريمه النسب الشرعي وقد انتفى ولو كان بعضا حقيقيا منه لما انعقد ولد الحر رقيقا في منكوحة رقيقة كما لا تلد الحرة رقيقا من زوج رقيق
1.   مغني المحتاج | جـ 4 صـ 103
(و) الثاني (البنات) جمع بنت (و) ضابطها هو (كل من ولدتها) فبنتك حقيقة (أو ولدت من ولدها) ذكرا كان أو أنثى كبنت ابن وإن نزل وبنت بنت وإن نزلت (فبنتك) مجازا وإن شئت قلت كل أنثى ينتهي إليك نسبها بالولادة بواسطة أو بغيرها ولما كانت المخلوقة من ماء الزنا قد يتوهم أنها بنت الزاني فتحرم عليه دفع هذا التوهم بقوله (قلت والمخلوقة من) ماء (زناه) سواء أكانت المزني بها مطاوعة أم لا سواء تحقق أنها من مائه أم لا (تحل له) لأنها أجنبية عنه إذ لا حرمة لماء الزنا بدليل انتفاء سائر أحكام النسب من إرث وغيره عنها فلا تتبعض الأحكام كما يقول به الخصم فإن منع الإرث بإجماع كما قاله الرافعي وقيل تحرم عليه مطلقا وقيل تحرم عليه إن تحقق أنها من مائه بأن أخبره بذلك نبي كأن يكون في زمن عيسى صلى الله عليه وسلم وعلى الأول يكره نكاحها واختلف في المعنى المقتضي للكراهة فقيل للخروج من الخلاف قال السبكي وهو الصحيح وقيل لاحتمال كونها منه فإن تيقن أنها منه حرمت عليه وهو اختيار جماعة منهم الروياني ولو أرضعت المرأة بلبن الزاني صغيرة فكبنته قاله المتولي (ويحرم على المرأة) وعلى سائر محارمها (ولدها من زنا والله أعلم) بالإجماع كما أجمعوا على أنه يرثها والفرق أن الابن كالعضو منها وانفصل منها إنسانا ولا كذلك النطفة التي خلقت منها البنت بالنسبة للأب

Pertanyaan (b)
Sejauh mana peran tes DNA dalam menentukan nasib nasab maupun hak-hak perdata seseorang?
Jawaban (b)
Dalam persoalan hubungan di luar nikah, tes DNA tidak bisa difungsikan sebagai penetapan nasab, meskipun terbukti ada hubungan gen, sebab anak hasil zina tidak bisa dinasabkan pada zani (ayah biologisnya).
Referensi
- Al-Wasith, Juz 5, hlm. 103
- Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, juz 10, hlm. 9
- Takmilah al-Majmu’, Juz 17, hlm. 410
1.   الوسيط | جـ 5 صـ 103
فرع إذا ولدت من الزنا لم يحل لها نكاح ولدها والمخلوقة من ماء الزنا لا يحرم نكاحها على الزاني لأنها تنفصل عن الأم وهي إنسان وبعض منها وتنفصل عن الفحل وهو نطفة فعلة تحريمه النسب الشرعي وقد انتفى ولو كان بعضا حقيقيا منه لما انعقد ولد الحر رقيقا في منكوحة رقيقة كما لا تلد الحرة رقيقا من زوج رقيق
1.   الفقه الإسلامي وأدلته | جـ 10 صـ 9
أسباب ثبوت النسب من الأب سبب ثبوت نسب الولد من أمه هو الولادة شرعية كانت أم غير شرعية كما قدمنا وأما أسباب ثبوت النسب من الأب فهي 1- الزواج الصحيح 2- الزواج الفاسد 3- الوطء بشبهة ونبين كل سبب على حدة فيما يأتي أولاً ـ الزواج الصحيح اتفق الفقهاء على أن الولد الذي تأتي به المرأة المتزوجة زواجاً صحيحاً ينسب إلى زوجها للحديث المتقدم «الولد للفراش» والمراد بالفراش المرأة التي يستفرشها الرجل ويستمتع بها وذلك بالشروط الآتية الشرط الأول ـ أن يكون الزوج ممن يتصور منه الحمل عادة بأن يكون بالغاً في رأي المالكية والشافعية ومثله في رأي الحنفية والحنابلة المراهق وهو عند الحنفية من بلغ اثنتي عشرة سنة وعند الحنابلة من بلغ عشر سنوات فلا يثبت النسب من الصغير غير البالغ حتى ولو ولدته أمه لأكثر من ستة أشهر من تاريخ عقد الزواج ولا يثبت النسب في رأي المالكية من المجبوب الممسوح وهو الذي قطع عضوه التناسلي وأنثياه أما الخصي وهو من قطعت أنثياه أو اليسرى فقط فيرجع في شأنه للأطباء المختصين فإن قالوا يولد له ثبت النسب منه وإن قالوا لا يولد له لا يثبت النسب منه ويثبت النسب في رأي الشافعية والحنابلة من المجبوب الذي بقي أنثياه فقط ومن الخصي الذي سُلَّت خصيتاه وبقي ذكره ولا يثبت من الممسوح المقطوع جميع ذكره وأنثييه الشرط الثاني ـ أن يلد الولد بعد ستة أشهر من وقت الزواج في رأي الحنفية ومن إمكان الوطء بعد الزواج في رأي الجمهور فإن ولد لأقل من الحد الأدنى لمدة الحمل وهي ستة أشهر لا يثبت نسبه من الزوج اتفاقاً وكان دليلاً على أن الحمل به حدث قبل الزواج إلا إذا ادعاه الزوج ويحمل ادعاؤه على أن المرأة حملت به قبل العقد عليها إما بناء على عقد آخر وإما بناء على عقد فاسد أو وطء بشبهة مراعاة لمصلحة الولد وستراً للأعراض بقدر الإمكان. الشرط الثالث ـ إمكان تلاقي الزوجين بعد العقد: وهذا شرط متفق عليه وإنما الخلاف في المراد به أهو الإمكان والتصور العقلي أو الإمكان الفعلي والعادي؟ قال الحنفية الحق أن التصور والإمكان العقلي شرط فمتى أمكن التقاء الزوجين عقلاً ثبت نسب الولد من الزوج إن ولدته الزوجة لستة أشهر من تاريخ العقد حتى ولو لم يثبت التلاقي حساً فلو تزوج مشرقي مغربية ولم يلتقيا في الظاهر مدة سنة فولدت ولداً لستة أشهر من تاريخ الزواج ثبت النسب لاحتمال تلاقيهما من باب الكرامة وكرامات الأولياء حق فتظهر الكرامة بقطع المسافة البعيدة في المدة القليلة ويكون الزوج من أهل الخطوة الذين تطوى لهم المسافات البعيدة
1.   تكملة المجموع على شرح المهذب | جـ 17 صـ  410 المكتبة السلفية
وإن ادعى الزوج أنه من الواطئ فقال بعض أهل العلم يعرض على القافة معهما فيلحق بمن ألحقته منهما فإن ألحقته بالزوج لحق ولم يملك نفيه باللعان وهو أصح الروايتين عن أحمد  ولنا أنه يملك الاستعانة بالطب الشرعي في تحليل فصائل دم كل من الرجلين والأم فإن تشاتهت فصائل الدم عنهما أخذ بالقافة وإن اختلفت فإن كان أحدهما (أ) والآخر (ب) والأم (و) فإن جاء الولد (و) رجعنا إلى القافة وإن جاء (أ) كان لمن فصيلته (أ) وإن جاء (ب) كان كذلك وإن جاء (أ ب) رجعنا إلى القافة ويحتمل أن يلحق الزوج لأن الفراش دلالته أقوى فهو مرجح لأحد الاحتمالين فيلحق بالزوج ويمكن أن يلحق بهما ولم يملك الواطئ نفيه عن نفسه وللزوج أن ينفيه باللعان وهذا إحدى الروايتين عن أحمد وإن لم توجد القافة أو أنكر الواطئ الوطء أو اشتبه على الطب الشرعي أو القافة ترك إلى أن يكبر إلى وقت الانتساب فإن انتسب إلى الزوج وإلا نفاه باللعان


Pengantar Ilmu Shorof/ Tashrif

Belajar Shorof/ TashrifA.     Pengertian At-Tashrif ( التصريف )
At-Tashrif ( التصريف ) secara bahasa berarti Perubahan/ merubah secara mutlak, artinya segala perubahan dinamakan ( التصريف ).
Sedangkan menurut istilah yaitu perubahan dari suatu bentuk kalimat/lafadz kepada bentuk kalimat yang lain untuk mencari suatu makna yang dikehendaki.
Sebagai contoh : كَتَبَ يَكْتُبُ كَاتِبٌ

B.      Pembagian Kalimat
Dalam bahasa Arab sama artinya dengan kata dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kalimat dibagi menjadi tiga, yaitu Fi’il (فعل)/ kata kerja, Isim (اسم)/ kata benda, dan kalimat huruf (حرف).
Pembagian kalimat :
Wazan
Mauzun
Nama
Arti
فَعَلَ
نَصَرَ
Fi’il Madhi
Sudah melakukan ( kata kerja lampau )
يَفْعُلُ
يَنْصُرُ
Fi’il Mudhori’
Sedang/akan Melakukan
فَعْلًا
نَصْرًا
Mashdar Ghoiru Mim
Suatu pekerjaan
مَفْعَلًا
مَنْصَرًا
Mashdar Mim
Suatu pekerjaan
فَهُوَ
فَهُوَ
Isim Dhomir
Kata ganti
فَاعِلٌ
نَاصِرٌ
Isim Fa’il
Pelaku ( Subjek )
وَذَاكَ
وَذَاكَ
Isim Isyaroh
Kata tunjuk
مَفْعُوْلٌ
مَنْصُوْرٌ
Isim Maf’ul
Yang dikenai pekerjaan/yang dikerjakan ( Objek )
اُفْعُلْ
اُنْصُرْ
Fi’il Amr
Kata perintah
لَا تَفْعُلْ
لَا تَنْصُرْ
Fi’il Nahi
Kata larangan
مَفْعَلٌ
مَنْصَرٌ
Isim Zaman/ isim Makan
Waktu/ tempat
مِفْعَلٌ
مِنْصَرٌ
Isim Alat
Alat yang digunakan



Ciri-ciri masing kalimat :                  
a.        Fi’il (فعل)
Kalimat fi’il dapat diketahui ( mempunyai ciri ) sebagai beikut :
1.       Dapat kemasukan قَد, ia dapat masuk pada fi’il Madhi (bermakna sungguh)dan Mudhori’ ( bermakna terkadang ).
Contoh : قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ ( Sholat itu telah di dirikan )
2.       Dapat kemasukan س/سوف ( bermakna akan )
Contoh : سَأَذْهَبُ اِلَي اْلمَعْهَدِ ( saya akan pergi ke pondok )
3.       Ta’ ta’nis yang sukun  تْ ( bermakna dia perempuan ), khusus masuk pada fi’il Madhi.
Contoh : نَجَحَتْ فَاطِمَةُ فِي امْتِحَانِهَا  ( Fatimah lulus dalam ujiannya ).
4.       Ta’ fa’il (  ( تَ,تِ,تsebagai kata ganti ( khusus pada fi’il Madhi.
Contoh : قَرَأْتُ اْلقُرْانَ  ( saya telah membaca Al-Qur’an )
5.       Nun Taukid ( sebagai penguat )
Contoh :يَا مُحَمَّدُ, اِحْفَظَنْ هَذَا الدَّرْسِ  ( wahai Muhammad, sungguh hafalkanlah pelajaran ini ).
6.       Ya’ dhomir mukhotobah  ى bila disertai perintah ( khusus pada fi’il amr ).
Contoh : يَا زَيْنَبُ, اِجْلِسِى بِالسَّكِيْنَةِ  ( wahai Zainab, duduklah dengan tenang ).
b.       Kalimat Isim (اسم)
Dapat di ketahui dengan cirri-ciri sebagai berikut :
1.       Tanwin
Contoh :ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا  ( Zaid telah memukul Umar ).

2.       I’rob jar
Contoh : كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ ( saya menulis dengan pena ).
3.       Kemasukan huruf Jar, (من, الي, عن, علي, في, ربّ, ب, ك, ل) .
Contoh : رَجَعْتُ مِنَ اْلمَدْرَسَةِ  ( saya pulang dari sekolah ).
4.       Kemasukan alif lam (ال)
Contoh : اَكَلَ مُحَمَّدٌ اْلحُبْزَ  ( Muhammad telah makan roti itu ).
c.       Kalimat huruf
Yaitu suatu kata yang tidak dapat menerima salah satu dari alamat-alamat kalimat isim maupun kalimat fi’il.

C.     Macam-macam binak Fi’il Tsulatsi
Secara garis besak binak di bagi menjadi  dua, yaitu :
1.       Binak Shohih
Yaitu fi’il dimana dalam kalimat tersebut toidak ada huruf illat, hamzah ataupun tadh’if/ syaddah.
Contoh : نَصَرَ, ضَرَبَ, كَتَبَ
2.       Binak Mu’tal
Yaitu kalimat yang didalamnya tidak terdapat huruf ‘illatnya. Baik berada pada Fa’, ‘Ain ataupun Lam fi’ilnya.
Contoh : اَكَلَ, بَيَعَ, رَمَى

Secara terperincinya, binak-binak tersebut dibagi menjadi:
1.       Shohih
Yaitu fi’il dimana dalam kalimat tersebut toidak ada huruf illat, hamzah ataupun tadh’if/ syaddah.
Contoh : نَصَرَ, ضَرَبَ, كَتَبَ
2.       Mudho’af
Kalimat yang ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya serupa ( satu jenis ).
Contoh : مَدَّ اصله مَدَدَ
3.       Mitsal
Kalimat yang Fa’ Fi’ilnya berupa huruf ‘illat wawu atau ya’.
·         Ketika berupa wawu dinamakan Mitsal Wawi.
Contoh : وَعَدَ
·         Ketika berupa ya’ dinamakan Mitsal Ya’i.
Contoh : يَسَرَ
4.       Ajwaf
Kalimat yang ‘Ain fi’ilnya berupa huruf ‘illat Wawu atau Ya’.
·         Ketika berupa wawu dinamakan Ajwaf Wawi.
Contoh : صَوَنَ
·         Ketika berupa Ya’ dinamakan Ajwaf Ya’i.
Contoh : سَيَرَ
5.       Naqish
Kalimat yang Lam fi’ilnya berupa huruf ‘illat wawu atau ya.
·         Ketika berupa wawu dinamakan Naqish Wawi.
Contoh : غَزَوَ
·         Ketika berupa ya’ dinamakan Naqish Ya’i.
Contoh : سَرَيَ
6.       Lafif
·         Lafif mafruq, ketika huruf ‘illat tersebut berada pada Fa’ dan Lam fi’il.
Contoh : وَقَيَ
·         Lafif Maqrun, ketika huruf ‘illatnya berada pada ‘Ain dan Lam fi’ilnya.
Contoh : شَوَيَ
7.       Mahmuz
·         Ketika huruf ‘illatnya berada pada Fa’ fi’il dinamakan Mahmuz Fa’i.
Contoh : أَمَلَ
·         Ketika huruf ‘illatnya berada pada ‘Ain fi’il dinamakan Mahmuz ‘Ain.
Contoh : سَأَلَ
·         Ketika huruf ‘illatnya berada pada Lam fi’il dinamakan Mahmuz Lam.
Contoh : نَشَأَ
Ringkasan Binak Fi’il Tsulatsi
No
Binak
Huruf  ‘illat
Contoh
1.
Shohih
-
نَصَرَ
2.
Mitsal
Wawi
وَعَدَ
Ya’i
يَسَرَ
3.
Mudho’af
Dobel/ tasydid
مَدَّ
4.
Lafif
Mafruq
وَقَى
Maqrun
شَوَى
5.
Naqish
Wawi
غَزَا
Ya’i
سَرَى
6.
Mahmuz
Fa’
أَدَمَ
‘Ain
سَأَلَ
Lam
قَرَأَ
7.
Ajwaf
Wawi
صَانَ
Ya’i
سَارَ

J   Tambihun !!!
Binaknya fi’il Ruba’i Mujarrod dan Ruba’i Mulhaq hanyalah berupa binak Shohih dan binak Mudho’af.
Fi’il
Binak
ف / ع /ل
Huruf
Contoh

Ruba’i
Shohih
ف /ل  awal
Tidak sejanis
دَحْرَجَ
Mudho’af
ف /ل  awal
Sejenis
( ط+ط )
طَأْطَأَ
ع /ل  kedua
( ء+ء )




D.     PEMBAGIAN FI’IL BERDASARKAN JUMLAH HURUF
1.       Fi’il Tsulatsi Mujarrod
Fi’il tsulatsi mujarrod adalah fi’il yang masih murni ( tidak ada tambahan ) dimana fi’il Madhinya terdiri dari 3 ( tiga ) huruf, yang masing-masing sebagai Fa’ fi’il, ‘Ain fi’il dan Lam fi’il.
Fi’il tsulasi Mujarrod ini di bagi dalam 6 (enam) bab, yaitu :
Bab
Wazan
Harokat ‘ain
Contoh/ Mauzun
Madhi
Mudhori’
Madhi
Mudhori’
1
فَعَلَ
يَفْعُلُ
فَتْحُ ضَمٍّ
يَنْصُرُ
نَصَرَ
2
فَعَلَ
     يَفْعِلُ
فَتْحُ كَسْرٍ
يَضْرِبُ
ضَرَبَ
3
فَعَلَ
يَفْعَلُ
فَتْحَتَانِ
يَفْتَحُ
فَتَحَ
4
فَعِلَ
يَفْعَلُ
كَسْرُ فَتْحٍ
يَعْلَمُ
عَلِمَ
5
فَعُلَ
يَفْعُلُ
ضَمُّ ضَمٍّ
يَحْسُنُ
حَسُنَ
6
فَعِلِ
يَفْعِلُ
كَسْرَتَانِ
يَحْسِب
حَسِبَ